Ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS): “Siapakah Orang yang Paling Mulia



Ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS): “Siapakah Orang yang Paling Mulia”

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dengan derajat yang berbeda-beda, bukan karena rupa, bukan karena harta, dan bukan karena jabatan, melainkan karena ketakwaan. Shalawat dan salam kita curahkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, suri teladan bagi seluruh umat manusia.


1. Kemuliaan Bukan di Mata Manusia

Ustadz Abdul Somad dalam banyak ceramahnya sering mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi manusia sangat berbeda dengan ukuran kemuliaan di sisi Allah.
“Kalau di dunia, yang mulia itu orang yang punya rumah besar, mobil mewah, pangkat tinggi, dan banyak pengikut. Tapi di sisi Allah, semua itu tidak ada nilainya kalau tidak disertai iman dan takwa,” ujar beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dari penampilan luar, melainkan dari hati yang bersih dan amal yang ikhlas.


2. Takwa Sebagai Ukuran Kemuliaan

UAS menjelaskan, takwa bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi ketaatan yang nyata kepada Allah.
“Orang yang bertakwa itu bukan hanya rajin salat, tapi juga jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, dan lembut dalam berkeluarga. Itulah orang yang mulia di sisi Allah,” katanya.

Ketika seseorang berusaha menjauhi larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya dengan ikhlas, maka Allah akan mengangkat derajatnya, meskipun dia tidak terkenal di dunia.
“Bisa jadi orang yang sederhana, bahkan miskin, justru lebih mulia di sisi Allah dibanding pejabat atau orang kaya yang sombong dan lalai dari ibadah,” lanjut UAS.


3. Contoh dari Kehidupan Rasulullah

Ustadz Abdul Somad juga mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW menilai kemuliaan manusia.
“Bilal bin Rabah, seorang budak hitam dari Habasyah, di mata manusia hina. Tapi Rasulullah bersabda, ‘Aku mendengar langkahmu di surga, wahai Bilal.’ Lihat, bukan nasab atau warna kulit yang mengangkat Bilal, tapi amal dan keikhlasannya.”

Rasulullah juga memuliakan Salman Al-Farisi, seorang Persia, dan menegaskan bahwa Islam menghapus semua batas keturunan dan ras.


4. Menjadi Hamba yang Mulia

Dalam penutup ceramahnya, UAS selalu mengingatkan, “Kalau mau jadi orang mulia, jangan kejar pujian manusia. Kejar ridha Allah.”
Langkah-langkah untuk menjadi hamba yang mulia di sisi Allah antara lain:

  • Menjaga ibadah wajib dan memperbanyak amal sunnah.
  • Berakhlak mulia terhadap sesama.
  • Menjauhi sifat sombong, riya, dan dengki.
  • Selalu bersyukur dan sabar dalam setiap ujian.

5. Penutup

Orang yang paling mulia bukanlah yang paling tinggi kedudukannya di dunia, tetapi yang paling dekat dengan Allah di akhirat.
Sebagaimana pesan UAS:

“Jangan iri kepada orang yang tampak lebih tinggi di dunia, tapi iri-lah kepada orang yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Karena kemuliaan sejati adalah ketika Allah ridha kepada kita.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah karena ketakwaan, keikhlasan, dan kebaikan hati kita. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.




Komentar